Senin, 13 Februari 2012

► ► ► INFO SEHAT TENTANG TEH ◄ ◄ ◄



1. Kandungan flavonoid dalam teh meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga membuat fungsi jantung menjadi lebih baik

2. Mengonsumsi tiga sampai empat cangkir teh setiap hari
menurunkan risiko terkena stroke iskemik sebesar 21 persen.

3. Polifenol yang berlimpah dalam teh hijau mengaktifkan kembali sel-sel mati kulit dan melindungi tubuh dari kerusakan akibat proses penuaan dan efek buruk polusi.

4. Antioksidan polifenol yang ditemukan dalam teh memiliki sifat antikanker.

5. Kandungan L-tehanine yang ditemukan dalam teh hijau dan hitam membantu menenangkan pikiran dan membantu Anda untuk fokus pada tugas-tugas.

6. Teh juga mengandung fluoride yang menguatkan gigi.

7. Minum teh secara teratur juga menguatkan tulang.

8. Teh, tanpa susu, tidak mengandung kalori sehingga membantu mengurangi berat badan.

9. Saat terkena flu, minum saja teh hitam untuk meredakannya.

10. Teh juga mampu melawan alergi. Maka, jangan bosan meminum teh.

#just share......Morning all...........

JANGAN PERNAH MERASA LELAH UNTUK BERDAKWA.



Termasuk buah hasil berdakwah adalah terus mengalirnya pahala si pendakwah setelah wafatnya,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا مَا عَمِلَ بِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ حَتَّى يَتْرُكَ
Artinya: “Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala amalan tersebut selama dikerjakan di dalam kehidupannya dan setelah wafatnya sampai ditinggalkan( Hadits riwayat Ath Thabarani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Jika seorang anak keturunan Adam meninggal maka terputus amalnya kecuali dati tiga perkara…”, dan salah satu diantaranya adalah: “Ilmu yang bermanfa’at.”

Semoha Allah Azza wa Jalla menjadikan kita dari para pendakwah kepada agama-Nya dan memberikan kepada kita seluruhnya keikhlashan di dalam perkataan dan perbuatan. Semata-mata mengharapkan Syurga Allah terhindar dari Siksa api neraka.
(aslb)

by: Abu Bakar Rieswanda

Khawarij , jahmiyah , murjiah , syiah !!!

 


Seandainya antum benar-benar mengetahui tentang tauhid , ana yakin antum semua pasti tidak gampang meng khawarij-khawarijkan golongan lain.

Antum belajar tauhid , hanya sebatas teori dan bingung dalam mempraktekannya sehingga syubhat murjiah memasuki hati antum .

Antum janganlah membusungkan dada antum , dikarenakan antum mempelajari teori tauhid dan mengaku da'wahnya da'wah tauhid.

Cara-cara antum sudah diawali oleh golongan lain , seperti ; M****diyah , per**s , dll yang sejenis. Bahkan mereka lebih dahulu menda'wahkan tauhid dibandingkan antum yang para ustadznya baru pulang belajar.

Tapi apapun promosi antum , hanya berlaku diawal penampakan ustadz antum seperti diawal penampakan golongan yang ana sebut diatas.terbukti berapa banyak ulama golongan diatas yang akhirnya masuk kedalam QHJ.

Adapun antum yang keluar dari QHJ , afwan , levelnya bukanlah ulama , hanya sebatas pengurus yang tidak mengerti agama sedikitpun.

Itulah beda ahlu sunnah dan ahlu bid'ah. Yang masuk kedalam ahlu sunnah adalah ulama atau sekelas ustadz , adapun yag masuk ahlu bid'ah adalah level PAUD

Apakah ini tuduhan tendensius ana ! Tidak ya '' akhi wa ukhti '' , terlihat dari cara antum berhujah copasan , tidak tahu dalil , bahakan lupa dengan copasannya sendiri.

Jangan antum sombong takabur berkata ; buktinya tidak ada orang '' salafiy '' masuk QHJ , yang ada malah orang QHJ yang masuk '' salafiy.

Pernyataan sekilas membuat orang berfikir dan berkata ; ; oh...iya ..ya. Tapi afwan , nahnu mengenal dan mengetahui sejarah . Berapa banyak jahmiyah insyaf masuk kedalam salafiy ? Berapa banyak murjiah insyaf masuk kedalam salafiy ?
Hampir nihil

Itu menandakan apa ?
Bahwa pendiri mu'tazilah keluar dari majelis ulama salaf ,
pendiri jahmiyah berguru kepada yahudi . Apa artinya ? Ana tidak heran kalo ada ahlu sunnah wa al jama'ah masuk kedalam syubhat ahli bid'ah seperti antum.

Yang ana kagum dan ta'jub akan kekuasaan allah , bila ada Ahli bid'ah jahmiyah dan murjiah yang mengaku salafiy padahal berakhlaq yahudi , yang masuk kedalam jama'ah.

Kenapa ? Karena keluar dari hidayah itu mudah , masuk kedalam hidayah itu susah kcuali orang yang dikehendakinya. Apakah antum hendak mengatakan imam Hasan Al Bashri bukan ahlu sunnah karena adanya pemimpin ahli bid'ah jahmiyah yang semula muridnya lalu keluar dan jadi jahmiyah ?

Apakah dengan keluarnya mauludin cs, maka menandakan '' salafiy '' hebat dan jama'ah bathal ? Ow tidak bisa ! Dengan sedikitnya '' salafiy '' yang insyaf itu menandakan kalianlah ahli bid'ah seperti sedikitnya jahmiyah -murjiah -syiah dan khawarij yang insyaf setelah keluar dari ahlu sunnah dan termakan syubhat ahli bid'ah. Apakah keluarnya khawarij dari Khalifah Ali Bin Abi Thalib menandakan beliau ahli bid'ah ? Hanya orang gila yang berkata seperti itu. Level berapa yang keluar dari barisan shahabat ? Level PAUD. Sama seperti antum semua.

Bahkan seorang mauludinpun tidak mengerti tauhid uluhiyah karena sudah termakan syubhat jahmiyah dan murjiah.

Berkacalah kepada sejarah dan tadaburrilah sejarah sehingga antum mendapat hikmah. Sejarah telah membuktikan semuanya.

Afwan kata '' salafiy '' ditandai tanda petik artinya salafiy palsu.

Untuk pembuktian dari tulisan nahnu diatas , adakah dari antum semua '' salafiy '' yang berani berhujah bab tauhid uluhiyah disini , di grup ini , atau di grup antum ?
Ini bukan kesombongan tapi pembuktian dengan kepala dingin.

Mari dibuktikan !!
 
Imam Hasan Al -'asyary

Ulama ahli bid'ah yang akhirnya insyaf dan kembali kepada sunnah .
Adapun orang jahilnya tidak mengikutinya dan sampai sekarang faham bid'ah asy'syari tetap dilestarikan. Bayangkan ulamanya sudah insyaf pengikutnya tetap bid'ah

Lihat sama dengan QHJ. Ulama bid'ah berbondong-bondong masuk kedalam QHJ , adapun pengikut QHJ yang level dasaran keluar dan mengikuti ahli bid'ah jahmiyah.
Mirip seperti keluarnya atho bin wasil murid imam Hasan Albashry yang menjadi jahmiyah.
 
 
Lalu diantara antum ada yang sombong berkata :

Ana dulu pengurus !! Pengurus apa , pengurus organ aja kok bangga , sudah khatam Al-qur'an ma'na keterangan belum ?

Ana hafidz Al -qur'an . Hafidz kok bangga ! Yang mengajari dia jadi hafidz adalah ulama top diluar yang ketika bertemu NH malah insyaf.

Ana mubaligh !? Alah.. Mas mas mubaligh kok bangga , wong antum pas mondok asal ngisi dan ngajar asala ngajar terus ngeminter. Buktinya apa ? Antum jangan fitnah !! Ok , ana ga fitnah ! Mau bukti ? Gampang , nih ucapan jahil antum

-' ana di QHJ ga pernah diajarin tauhid ,baru di '' salaf '' aja diajarin tauhid.

Nah ini , ini kebodohan antum , ngaku mubaligh , tauhid ga ngerti. Ga pernah baca surat al-ikhlas ya ? Ga pernah baca surat ar-rahman ya ? Ga pernah baca surat al kafirun ya ?

Ana ketua muda-mudi daerah dulu
Om, om , yang hafidz , yg mubaligh aja jahil murakkab apalagi antum yang malah himpunan belum tentu khatam. Buktinya apa ? Mau bukti ? Ayo masuk sini tes IQ antum yang katanya setinggi pohon tauge.

Maaf bukan sombong lagi angkuh , tetapi celaan ini sebagai bentuk tahdzir. Masih bagus akhlaq ana mencela orang hidup adapun antum , mencela. Orang mati yang secara dalil saja jelas dilarang mencela orang yang sudah wafat.

Yang mubaligh sama yang hafidz baca tuh HR bukhary soal larangan itu
Ana wakil daerah : pak , pak wakil daerah kok pamer , buktinya antum ditanya tentang thaghut saja ga ngerti.

Ana bekas guru pondok , ana menguasai nahwu ... Mas , bisa nahwu kok sombong , berapa banyak ahli nahwu diluar yang ahli bid'ah dan terbukti antum ditanya oleh seseorang tentang bentuk mengkufuri thaghut itu bagaimana , ya antum menjawabnya tolah-toleh garuk-garuk kepala.

Eh... Datang lagi makhluq halus mengaku ber IQ tinggi yang bernama @gali pat(nama akun salafi).
Kalo antum makhluq halus ya ana akui karna iblis IQnya diatas rata-rata manusia , yahudipun sama tetapi kesombongan telah menyebabkan mereka menjadi maklhuq paling bodoh.

Atas kelakuan antum '' akhti wa ukhti '' ana hanya berdoa.

Naudzubillahi minal jahilin
Ya muqalibal qulub tsabit qulubana 'ala dinika
 

Beberapa dalil yg meng haram kand tentang valentin atau berduaan antar lawan jenis (pacaran)



- Larangan mendekati perzinahan (QS Al Isra 17:32)

وَلاَ تَقْرَبُوا الِزنىَ إنَهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
Artinya: janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah seburuk-buruk perbutan.

QS Annur 24:30-31 tentang kewajiban menundukkan pandangan dan haramnya menjalin hubungan di luar nikah (pacaran)

قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون . وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن

Artinya: Katakan pada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pendangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat (ayat 30).

Dan katakan pada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka ... (ayat 31)

- Hadits Nabi :

إن الله كتب على ابن آدم حظه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالة ، فزنا العين النظر ، وزنا اللسان المنطق ، والنفس تمنَّى وتشتهي ، والفرْج يصدق ذلك كله ويكذبه
Artinya: Allah telah menulis bagian umat manusia dari zina. Zina mata adalah dengan melihat. Zina lisan dengan bicara, dan nafsur berharap dan berkeinginan. Farj (bagian privat manusia) mengkonfirmasi hal itu semuanya atau tidak membenarkannya.

Bertaubat setelah Membunuh 99 Orang





Hadist berikut mengajarkan pada kita bahwa Allah mengampuni seberapapun besar dosa-dosa hambanya selagi mau bertaubat kembali pada jalan yang benar. juga agar kita tidak apriori tehadap siapapun atau golongan apapun sekstrim dan sejahat apapun karena selagi masih hidup mereka masih mungkin untuk bertaubat menjadi orang baik.

2622 - حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ: أَنْبَأَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ النَّاجِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ سَمِعَتْهُ أُذُنَايَ، وَوَعَاهُ قَلْبِي " إِنَّ عَبْدًا قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا ثُمَّ عَرَضَتْ لَهُ التَّوْبَةُ، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ فَأَتَاهُ، فَقَالَ: إِنِّي قَتَلْتُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: بَعْدَ تِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ نَفْسًا قَالَ: فَانْتَضَى سَيْفَهُ فَقَتَلَهُ، فَأَكْمَلَ بِهِ الْمِائَةَ، ثُمَّ عَرَضَتْ لَهُ التَّوْبَةُ، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنِّي قَتَلْتُ مِائَةَ نَفْسٍ، فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: فَقَالَ: وَيْحَكَ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ اخْرُجْ مِنَ الْقَرْيَةِ الْخَبِيثَةِ الَّتِي أَنْتَ فِيهَا إِلَى الْقَرْيَةِ الصَّالِحَةِ قَرْيَةِ كَذَا وَكَذَا، فَاعْبُدْ رَبَّكَ فِيهَا، فَخَرَجَ يُرِيدُ الْقَرْيَةَ الصَّالِحَةَ، فَعَرَضَ لَهُ أَجَلُهُ فِي الطَّرِيقِ، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ، قَالَ إِبْلِيسُ: أَنَا أَوْلَى بِهِ، إِنَّهُ لَمْ يَعْصِنِي سَاعَةً قَطُّ، قَالَ: فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ: إِنَّهُ خَرَجَ تَائِبًا " قَالَ هَمَّامٌ: فَحَدَّثَنِي حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ: فَبَعَثَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَلَكًا، فَاخْتَصَمُوا إِلَيْهِ ثُمَّ رَجَعُوا، فَقَالَ: انْظُرُوا، أَيَّ الْقَرْيَتَيْنِ كَانَتْ أَقْرَبَ، فَأَلْحِقُوهُ بِأَهْلِهَا، قَالَ قَتَادَةُ: فَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ، قَالَ: لَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ احْتَفَزَ بِنَفْسِهِ فَقَرُبَ مِنَ الْقَرْيَةِ الصَّالِحَةِ، وَبَاعَدَ مِنْهُ الْقَرْيَةَ الْخَبِيثَةَ، فَأَلْحَقُوهُ بِأَهْلِ الْقَرْيَةِ الصَّالِحَةِ. قَالَ أَبُو الْحَسَنِ بْنُ الْقَطَّانِ: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ فَذَكَرَ نَحْوَهُ__________[حكم الألباني]صحيح دون قوله الحسن لما حضره الموت ق
... Abi Said Al-Hudriyi meriwayatkan: Sudikah kalian aku ceritakan apa-apa yang saya dengar dari lisan Rasulillahi SAW? Yang aku dengar sendiri dan aku fahami dengan hatiku. Sesungghnya seorang hamba telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian ia berkehendak untuk bertaubat. Maka ia bertanya tentang orang alim penduduk bumi. Maka ia ditunjukkan pada seseorang maka ia mendatanginya:”Sesungguhya saya telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah saya masih bisa bertaubat? “Setelah engaku membunuh 99 orang?”

Nabi bersabda: “Maka hamba itu menghunus pedangnya dan membunuh sang alim. Maka genaplah seratus orang. Kemudian ia berkehendak untuk taubat kembali, maka ia bertanya tentang orang alim penduduk bumi. Maka ia ditunjukkan pada seseorang maka ia mendatanginya”.Maka hamba berkata: ”Sesungguhya saya telah membunuh seratus orang, apakah saya masih bisa bertaubat? Nabi bersabda: Orang alim tersebut mengatakan,”Kasihan engkau!, siapakah yang menghalangimu untuk bertobat? Keluarlah dari desa kejelekan tempat tinggalmu menuju desa kebaikan, yaitu desa ini dan ini, maka beribadahlah kepada Tuhanmu di sana”.

Maka hamba keluar untuk bertaubat di desa kebaikan. Maka datanglah padanya ajalnya di tengah jalan. Maka Malaikat rohmat dan Malaikat Azab berebut mengambilnya. Iblis berkata: “Saya lebih berhak atas hamba ini. Sesungguhnya ia tidak menyelisihku sedikitpun”. Nabi Bersabda: Maka Malaikat Rahmat mengatakan: “Sesungguhya hamba ini keluar untuk bertaubat”.

Abi Rofik meriwayatkan bahwa Allah mengutus malaikat penengah. Malaikat penengah mengatakan: “Ukurlah ke desa manakah ia lebih dekat posisinya, maka susulkanlah pada penghuni desa itu”.

Hasan meriwayatkan: “Ketika datang mati hamba tersebut terjungkal tubuhnya lebih dekat ke desa kebaikan, dan menjauhkan dari desa kejelekan. Maka Malaikat emnyusulkan pada desa kebaikan”.
Hadist Ibnu Majah No.2622 Kitabu Diyat
Sumber  : LDII Sidoarjo

Seputar Sejarah Maulid

Adapun orang yang pertama kali mengadakannya adalah Bani Ubaid Al-Qoddakh yang menamai diri mereka dengan “Fatimiyyah”, yang mana mereka adalah dari golongan Syi'ah Rafidhah. Mereka memasuki kota Mesir pada tahun 362 H / 977 M. Dari... situlah kemudian tumbuh berkembang perayaan maulid secara umum dan maulid nabi secara khusus. Imam Ahmad bin Ali Al-Miqrizi –ulama ahli tarikh/sejarah- mengatakan dalam kitabnya “Al-Mawaidz wal I’tibar Bidzikri Khutoti wal Atsar” (1/490) : “Para khalifah Fatimiyyah mempunyai perayaan yang bermacam-macam setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, Asyuro’, maulid Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah az-Zahra, dan maulid khalifah. Serta perayaan lainnya seperti perayaan awal bulan Rajab, awal Sya’ban, Nisfu Sya’ban, awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan penutupan Ramadhan….” Orang yang pertama kali merayakan hari ulang tahun nabi setelah mereka adalah Raja Mudhafir Abu Sa’ad Kaukaburi pada awal abad ke 7 Hijriah. Sebagaimna diungkapkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya “Al-Bidayah wa An-Nihayah : 13/137)” : “Dia (Raja Mudhafir) merayakan maulid Nabi di bulan Rabi’ul awal dengan amat mewah. As-Sibt berkata : Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan raja Mudhafir disiapkan 5000 daging panggang, 10.000 daging ayam, 100.000 gelas susu, dan 30.000 piring makanan ringan….” Hingga beliau (Ibnu Katsir) berkata pula : “Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan orang-orang Sufi (betapa serupanya dahulu dan sekarang, pen). Sang raja pun menjamu mereka. Bahkan bagi orang-orang Sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi di waktu Dzhuhur hingga fajar, dan raja pun juga ikut berjoget bersama mereka." Ibnu Khalikan berkata dalam kitabnya "Wafayatul A’yaan" (4/117-118) : "Bila tiba awal bulan Safar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan para penyanyi. Ahli penunggang kuda, dan pelawak. Pada hari itu manusia LIBUR KERJA karena ingin bersenang-senang di kubah-kubah tersebut bersama para penyanyi…..dan bila maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi dan kambing, yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan nyanyian sampai tiba di lapangan….Pada malam maulid, raja mengadakan nyanyian setelah sholat Maghrib di benteng.” Demikianlah sejarah awal perayaan hari ulang tahun Nabi yang penuh pemborosan dan kemaksiatan. Perkataan Ulama tentang Maulid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya “I’qtidho’ Shirotil Mustaqim” (2/123-124): “Demikian pula apa yang diadakan oleh sebagian manusia tentang perayaan hari kelahiran Nabi, padahal ulama telah berselisih tentang tanggal kelahirannya. Semua tidak pernah dikerjakan oleh generasi salaf (sahabat, tabi’in, tabi’ut dan tabi’in)….dan Seandainya hal itu baik (untuk diamalkan), Tentu para salaf lebih berhak mengerjakannya daripada kita. Karena mereka jauh lebih cinta kepada Nabi dan mereka lebih semangat dalam melaksanakan amal kebaikan. Sesungguhnya cinta Rasul adalah dengan mengikuti beliau, mentaati perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara dzahir dan batin, menyebarkan ajarannya, dan berjihad untuk itu semua, baik dengan hati, tangan ataupun lisan. Karena inilah jalan para generasi utama dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.” Syaik Muhammad Abdussalam As-Syaqiry (murid Syaikh Rasyid Ridha) berkata dalam kitab “As-Sunan wal Mubtada’at : 123” bahwa : “Di bulan ini (Rabi’ul awal), Rasulullah dilahirkan dan diwafatkan…..Oleh karenanya, menjadikan kelahiran beliau sebagai perayaan merupakan perkara bid’ah munkaroh dan sesat serta tidak sesuai dengan syariat dan akal. Seandainya perkara ini baik, Bagaimana mungkin amalan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, serta para sahabat dan tabi’in, tabi’ut tabi’in serta ulama kaum muslimin ? Tidak syak lagi bahwa perayaan tersebut hanyal Dibuat-buat oleh para Sufi yang suka makan, dan oleh para pengangguran dari kalangan ahlu bid’ah yang kemudian diikuti oleh mayoritas manusia. Pahala apa yang akan diperoleh dari harta yang dihambur-hamburkan ?” K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari Al-Jombangi pendiri Pesantren Tebu Ireng dan juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU) berkata dalam kitabnya “At-Tanbihaat al-Waajibat liman Yashna’ Maulid bin Mungkarot” hal.17-18, yang bukilannya adalah : “Perayaan maulid seperti yang saya sifatkan pertama kali (dibumbui maksiat) hukumnya haram, dan tidak ada dua tanduk yang bertabrakan tentang terlarangnya maulid, tidak dianggap baik oleh orang yang memounyai sifat takwa dan iman. Akan tetapi yang menyenanginya hanyalah orang yang dibutakan matanya dan sangat bernafsu terhadap makan dan minum serta tidak takut maksiat kepada siapapun dan tidak peduli dengan dosa apapun. Demikian pula Menontonnya, menghadiri undangannya, dan menyumbang harta untuk perayaan maulid tersebut. Semua itu hukumnya haram dan sangat haram, karena mengandung beberapa kemungkaran, yang akan kami sebutkan di akhir kitab.” Kemudian di halaman 8-10, beliau berkata pula : “Pada malam Senin tanggal 25 Rabi’ul Awal tahun 1355 H / 1935 M saya melihat sebagian santri pondok pesantren agama mengadakan perayaan maulid dengan menghadirkan alat-alat musik kemudian membacakan sedikit ayat Qur’an serta kisah kelahiran Nabi (kitab Barzanji). Kemudian setelah itu, mulai mengerjakan kemungkaran seperti (atraksi) pencak silat dengan menabuh gendang. Semua itu dilakukan dihadapan para wanita yang bukan mahram. Demikian pula sejenis judi (domino), campur baur laki-laki perempuan, joget, dan tenggelam dalam hal yang sia-sia, tertawa dan mengeraskan suara di masjid dan sekelilingnya. Melihat itupun SAYA MENGINGKARI mereka dari kemungkaran-kemungkaran tersebut. Lalu merekapun bubar. Tatkala perkaranya seperti yang saya gambarkan tadi, dan saya khawatir dan kejadian menjijikan ini akan bertambah menyebar ke tempat lainnya atau akan ditambah lagi oleh orang-orang awam dengan kemaksiatan lainnya, maka saya tulislah buku ini sebagai Nasehat dan Petunjuk kepada kaum Muslimin.” Syubhat Perkara Maulid Ada yang mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi termasuk konsekuensi wujud cinta kepada Nabi Muhammad. Ketahuilah : “Perkataan ini dusta, tidak berdasar dalil sedikitpun. Sebab maulid Nabi tidak termasuk konsekuensi cinta kepada Nabi. Cinta Nabi itu dengan ketaatan (dalam menjalankan sunnahnya), bukan dengan kemaksiatan dan kebid’ahan seperti halnya maulid Nabi. Bahkan maulid Nabi termasuk pelecehan dan penghinaan kepada Nabi” [“Siyanatul Insan ‘An Waswasati Syaikh Dahlan” hal. 228 oleh Syaikh Muhammad Basyir Al-Hindy, kata pengatar oleh Syaikh Rasyid Ridha] Kemudian perhatikan cerita dialog menarik yang diambil dari buku “Syaikh Abdul Qadir Jailany wa Aro’uhu” hal.420-421 seputar masalah maulid... “Suatu kali aku berkunjung ke salah satu negeri Islam dalam acara muktamar tahun 1415 H / 1993 M, tiba-tiba seorang ulama negeri tersebut mengajak dialog bersamaku tentang maulid Nabi setelah menuduhku tidak mencintai Nabi karena aku tidak merayakan maulid. Kemudian aku jelaskan kepadanya bahwa penyebab utama aku tidak merayakannya adalah justru karena kecintaanku kepada Nabi. Sebab hakekat cinta kepadanya adalah dengan beramal sesuai petunjuknya (sunnahnya). Lalu terjadilah dialog sebagai berikut : Penulis : “Apakah maulid merupakan amal ketaatan ataukah kemaksiatan ?” Jawabnya : “Jelas ketaatan” Penulis : “Apakah Nabi mengetahui ketaatan tersebut ataukah tidak mengetahuinya ?” Jawabnya : “Mengetahuinya”. (Dia menjawab demikian karena tidak mungkin dia berani mengatakan bahwa Nabi tidak mengetahuinya, kalau dia mengatakan Nabi tidak mengetahuinya berarti perkara maulid yang dia amalkan langsung menjadi bathil) Penulis : “Apakah Nabi menyampaikan perintah maulid atau menyimpannya ?” Jawabnya : (Dia bingung harus menjawab apa, lalu berkata) : “Menyampaikannya ?” (Dia menjawab demikian, karena tidak mungkin dia menjawab Nabi menyimpannya, kalau dia mengatakan Nabi menyimpan perintah maulid, berati perkara maulid yang dia amalkan langsung menjadi bathil) Penulis : “Jika begitu, tunjukkan kepada saya contoh dari Nabi tentang perayaan maulid (jika kamu berkata bahwa Nabi menyampaikan hal tersebut) ? Jawabnya : (Diam tidak bisa menjawab) Penulis : “Diamnya saudara berarti menunjukkan bahwa Nabi tidak menyampaikan perkara Maulid ini (tidak ada contohnya dari beliau). Akhirnya dia mengakui bid’ahnya maulid Nabi dan berjanji kepadaku untuk memerangi bid’ah tersebut. Semoga Allah meneguhkan hatinya.” Nasehat untuk saudaraku sesama muslim…. Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian memujiku sebagimana kaum Nashrani memuji Nabi 'Isa. Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah : Hamba Alloh dan Rasul-Nya.” [HR. Bukhari : 3445] Imam Syatibi berkata dalam kitabnya “Al-I’tishom” I/64-65), bawah Imam Malik berkata : “Barangsiapa melakukan bid’ah dalam Islam dan MENGANGGAPNYA BAIK (bid’ah ahsanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad mengkhianati risalah, karena Allah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu….”. Maka apa saja yang di hari itu (pada zaman Nabi) bukan sebagai agama, maka pada hari ini juga tidak termasuk agama.” Imam Al-Barbahari berkta dalam kitabnya “Syarhus Sunnah” hal. 68-69 bahwa : “Waspadailah olehmu perkara baru (bid’ah). Karena bid’ah yang awalnya kecil, lambat laun akan terbiasa dan menjadi besar. Demikian pula setiap bid’ah pada ummat ini, AWALNYA HANYA KECIL MIRIP DENGAN KEBENARAN, HINGGA PELAKUNYA TERTIPU DAN SUDAH TIDAK MAMPU LAGI KELUAR DARINYA….” Demikianlah pembahasan ringkas tentang bid’ahnya maulid nabi. Semoga Allah menunjuki kita semua. Amien. [Ditulis oleh Abu Ubaidah As-Sidawi Al-Atsary dalam Bulletin Al-Furqan, Edisi 8 tahun I, dengan sedikit penambahan dari editor]

Dimanakah kedudukan imam ِِAhmad bin Hanbal dan Imam Hasan al Bashri dengan kedudukan pemimpin para pemuda di syurga Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam Hussein bin Ali bin Abi Thalib cucu serta Abdullah bin Zubair bin Awwam anak dari 10 orang yang dijamin syurga serta cucu dari ahli syurga Abu Bakar Assidiq.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Dimanakah kedudukan imam ِِAhmad bin Hanbal dan Imam Hasan al Bashri dengan kedudukan pemimpin para pemuda di syurga Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam Hussein bin Ali bin Abi Thalib cucu serta Abdullah bin Zubair bin Awwam anak dari 10 orang yang dijamin syurga serta cucu dari ahli syurga Abu Bakar Assidiq.

Segolongan orang orang yang dhaif jiddan dalam berhujah selalu saja memegang teguh pendapat dari Ahmad bin Hanbal dan Hasan al Bashri yang berkata : Thaatlah kepada penguasa muslim.

Dengan pendapat ini sekelompok orang orang yang dhaif jiddan berpegang teguh dengannya dan menghilangkan , mengabaikan atau pura pura tidak tahu atau bahkan sengaja menghilangkan bukti sejarah akan adanya perlawanan , penentangan terhadap penguasa dzalim.

Lalu apakah dengan perlawanan terhadap penguasa dzalim itu menyebabkan seseorang menjadi khawarij ? tentu tidaklah semudah itu kita menghukuminya. sekali lagi , seandainya kita tidak melupakan sejarah maka kita tidak akan bertahan pada hawa nafsu kita seakan akan kebenaran hanyalah milik 1 atau 2 pendapat saja.

Ketika Husein bin Ali bin Abi Thalib pemimpin para pemuda di syurga keluar menuju Iraq untuk menerima bai’at penduduk Iraq , maka apakah husein telah menjadi khawarij karena membuat bai’at sendiri yang menentang penguasa saat itu Yazid bin Muawiyah ? dan apakah pembunuhan terhadap Husein bin Ali dibenarkan oleh semua shahabat dan kebenaran ada di fihak Yazid bin Muawiyah yang jelas sekali pada saat itu Yazid adalah penguasa tunggal seluruh kaum muslimin ?

Hanya orang orang dhaif jiddan dalam beraqidah dan berhujah yang melupakan atau menghilangkan atau sebenarnya tidak mengetahui sejarah bahwa Husein bin ali di bai’at oleh penduduk Iraq untuk menentang kekuasaan yazid bin muawiyah bin abu syufyan secara sembunyi –sembunyi.

Kisah lain ketika Abdullah bin Zubair bin Awwam dibai’at dan menjadi khalifah di mekkah memisahkan diri dari pemerintahan yazid bin muawiyah , maka apakah Abdullah bin Zubair bisa dikatakan beraqidah khawarij ? dan ketika Abdullah bin Zubair disalib dan dipenggal kepalanya dihadapan asma binti abu bakar dan Asma ibunda Abdullah bin zubair berkata ; bahwa Allah akan melaknat pembunuh anaknya. Dengan begitu apakah kita masih mengatakan barang siapa menentang penguasa muslim maka dia khawarij ? difihak siapakah kebenaran pada saat husein bin ali maupun Abdullah bin zubair menentang penguasa muslim tunggal Yazid bin Muawiyah ?

Begitu juga ketika hampir seluruh penduduk Madinah mencabut baiatnya dan menolak serta melawan penguasa Bani Umayyah pada saat itu . sehingga hampir seluruh penduduk madinah dibunuh oleh Muslim bin Uqbah. Dan apakah pada saat itu semua penduduk madinah khawarij ? tidak , bahkan semuanya ahlu sunnah. bila kita berpegang dengan hujah bathil para dhaif jiddan yang mengatakan haram hukumnya melawan penguasa muslim , maka niscaya kita mengatakan Husein bin Ali , Abdullah bin Zubair , Penduduk Madinah dan Mekkah semuanya telah mengerjakan perbuatan haram dan khawarij karena melawan penguasa yang menguasai suatu wilayah dan punya kekuatan dan keberadaanya jelas.

Inilah yang seperti kami jelaskan pada postingan terdahulu bahwa akibat tidak bisa memahami qaidah qaidah fatwa , tafsir dan ra’yu sehingga menjadi ustadz dhaif jiddan dengan pengikutnya yang lebih dhaif jiddan

Banyak kisah banyak cerita yang bila kita mau membuka mata hati kita , Ikhlas mencari kebenaran niscaya akan kita temui di dalam sejarah perjalanan umat Muhammad shalallahu alaihi wa sallam.

Judul yang kami tulis diatas bukanlah bertujuan untuk menjadikan perbandingan kedudukan seseorang , tetapi judul itu untuk menjadi bahan renungan kita dan penulis memaksudkan kepada pembaca agar bisa memahami situasi dan kondisi suatu zaman dan sikap ulama terhadap suatu masalah dan kelas akal dari yang bertanya. Dan mungkin saja ketika melihat kerusakan akibat menentang terhadap penguasa yang memiliki kekuatan dan pada saat itu penguasa dikelilingi ahli bid’ah disekitarnya maka imam Ahmad bin Hanbal dan Hasan al Bashry karena mengetahui sejarah riwayat terdahulu akhirnya memilih untuk kebaikan dan mencegah kerusakan bagi ahlu sunnah dan bukan dimaksudkan untuk mengakui secara mutlak bahwa penguasa itu adalah imamnya. Allahu ‘alam.

Kenapa kami berani berpendapat seperti itu , apakah pendapat ini berasal dari hawa nafsu kami ? tidak . sebab dimanakah kedudukan para amir –amir setelah lepas zaman tab’in dibandingkan dengan zaman shahabat masih hidup. Sangat sangat jauh dalam hal ketaqwaan terhadap sunnah dan hukum syariat. Tetapi hal sekecil apapun yang dilihat oleh shahabat seperti Husein bin Ali yang telah di jamin syurga dan penduduk Mekkah serta Madinah yang ibnu abbas dan ibnu umar serta Abdullah bin zubair berada ditengah tengah mereka terhadap penentangan syariat , maka mereka keluar melawan. Tidak mendiamkan , mereka dibai’at dan membai’at yang pada awalnya secara diam – diam ketika di bai’at

Begitu juga ketika zaman al Watsiq yang memiliki aqidah al qur’an itu makhluq . imam Ahman bin Nashr al khuzai keluar membai’at dan di bai’at secara sembunyi – sembunyi oleh pengikutnya dan beliau berdakwah secara sembunyi sembunyi
( bithonah ) sehingga beliau meninggal dalam keadaan di penggal kepalanya oleh penguasa pada saat itu. Maka apakah Imam Ahmad bin Nashr al Khuza’I adalah khawarij ? ibni taimiyah menjelaskan bahwa sepeninggal imam ahmad bin Nashr bai’at dilanjutkan oleh imam Ahmad bin hanbal.

Dan banyak kisah sejarah lain yang bila kita mau belajar dalam hadits rasulullah niscaya akan kita ketahui bahwa tidak ada satupun dalil shahih maupun dhaif yang MEWAJIBKAN IMAM HARUS MEMILIKI WILAYAH DAN MEMPUNYAI KEKUATAN. Sejarah para ahli syurga telah membuktikan itu dimana Husein bin Ali tidaklah mempunyai kekuasaan wilayah dan kekuatan sedikitpun , begitu juga dengan penduduk Madinah , Mekkah dan Abdullah bin zubair serta imam Ahmad bin Nashr al Khuzai.

Semoga dengan menyimak sejarah yang telah kami tulis bisa menjadi cahaya terang bagi ahlu sunnah yang berjama’ah untuk semakin mantap akan barang haq serta bagi yang belum memahami bisa menjadi sinar dihatinya agar bisa keluar dari jerat taklid dan ta’ashub terhadap para ustadz dhaif jiddan. Yang kami bawakan adalah bukti sejarah yang selalu dipertanyakan oleh sekelompok pengikut ustadz dhaif jiddan dan telah kami bawakan. Adapun sekarang giliran kalianlah yang membawakan dasar dari kenapa imam Ahmad bin Hanbal dan imam Hasan al Bashry pada saat itu berpendapat seperti itu.

Dan janganlah menjadi seperti firman Allah dibawah ini :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

PENYAKIT HATI [KAGUM DIRI, MERASA POL DEWE]

    Kagum diri dapat diartikan suatu penyakit hati yang membuat seseorang merasa bahagia dengan pujian dari orang lain dan merasa diri...