"Intanshurullah Yansurkum (Jika kamu menolong Allah (Agama Allah) maka Allah akan menolongmu)"....
Senin, 13 Februari 2012
JANGAN PERNAH MERASA LELAH UNTUK BERDAKWA.
Termasuk buah hasil berdakwah adalah terus mengalirnya pahala si pendakwah setelah wafatnya,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا مَا عَمِلَ بِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ حَتَّى يَتْرُكَ
Artinya: “Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya
pahala amalan tersebut selama dikerjakan di dalam kehidupannya dan
setelah wafatnya sampai ditinggalkan( Hadits riwayat Ath Thabarani)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ :
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ
يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Jika seorang anak keturunan Adam meninggal
maka terputus amalnya kecuali dati tiga perkara…”, dan salah satu
diantaranya adalah: “Ilmu yang bermanfa’at.”
Semoha Allah Azza
wa Jalla menjadikan kita dari para pendakwah kepada agama-Nya dan
memberikan kepada kita seluruhnya keikhlashan di dalam perkataan dan
perbuatan. Semata-mata mengharapkan Syurga Allah terhindar dari Siksa
api neraka.
(aslb)
by: Abu Bakar Rieswanda
Khawarij , jahmiyah , murjiah , syiah !!!
Seandainya antum benar-benar mengetahui tentang tauhid , ana yakin
antum semua pasti tidak gampang meng khawarij-khawarijkan golongan lain.
Antum belajar tauhid , hanya sebatas teori dan bingung dalam mempraktekannya sehingga syubhat murjiah memasuki hati antum .
Antum janganlah membusungkan dada antum , dikarenakan antum mempelajari teori tauhid dan mengaku da'wahnya da'wah tauhid.
Cara-cara antum sudah diawali oleh golongan lain , seperti ; M****diyah
, per**s , dll yang sejenis. Bahkan mereka lebih dahulu menda'wahkan
tauhid dibandingkan antum yang para ustadznya baru pulang belajar.
Tapi apapun promosi antum , hanya berlaku diawal penampakan ustadz
antum seperti diawal penampakan golongan yang ana sebut diatas.terbukti
berapa banyak ulama golongan diatas yang akhirnya masuk kedalam QHJ.
Adapun antum yang keluar dari QHJ , afwan , levelnya bukanlah ulama ,
hanya sebatas pengurus yang tidak mengerti agama sedikitpun.
Itulah beda ahlu sunnah dan ahlu bid'ah. Yang masuk kedalam ahlu sunnah
adalah ulama atau sekelas ustadz , adapun yag masuk ahlu bid'ah adalah
level PAUD
Apakah ini tuduhan tendensius ana ! Tidak ya '' akhi
wa ukhti '' , terlihat dari cara antum berhujah copasan , tidak tahu
dalil , bahakan lupa dengan copasannya sendiri.
Jangan antum
sombong takabur berkata ; buktinya tidak ada orang '' salafiy '' masuk
QHJ , yang ada malah orang QHJ yang masuk '' salafiy.
Pernyataan sekilas membuat orang berfikir dan berkata ; ; oh...iya ..ya.
Tapi afwan , nahnu mengenal dan mengetahui sejarah . Berapa banyak
jahmiyah insyaf masuk kedalam salafiy ? Berapa banyak murjiah insyaf
masuk kedalam salafiy ?
Hampir nihil
Itu menandakan apa ?
Bahwa pendiri mu'tazilah keluar dari majelis ulama salaf ,
pendiri jahmiyah berguru kepada yahudi . Apa artinya ? Ana tidak heran
kalo ada ahlu sunnah wa al jama'ah masuk kedalam syubhat ahli bid'ah
seperti antum.
Yang ana kagum dan ta'jub akan kekuasaan allah ,
bila ada Ahli bid'ah jahmiyah dan murjiah yang mengaku salafiy padahal
berakhlaq yahudi , yang masuk kedalam jama'ah.
Kenapa ? Karena
keluar dari hidayah itu mudah , masuk kedalam hidayah itu susah kcuali
orang yang dikehendakinya. Apakah antum hendak mengatakan imam Hasan Al
Bashri bukan ahlu sunnah karena adanya pemimpin ahli bid'ah jahmiyah
yang semula muridnya lalu keluar dan jadi jahmiyah ?
Apakah
dengan keluarnya mauludin cs, maka menandakan '' salafiy '' hebat dan
jama'ah bathal ? Ow tidak bisa ! Dengan sedikitnya '' salafiy '' yang
insyaf itu menandakan kalianlah ahli bid'ah seperti sedikitnya jahmiyah
-murjiah -syiah dan khawarij yang insyaf setelah keluar dari ahlu sunnah
dan termakan syubhat ahli bid'ah. Apakah keluarnya khawarij dari
Khalifah Ali Bin Abi Thalib menandakan beliau ahli bid'ah ? Hanya orang
gila yang berkata seperti itu. Level berapa yang keluar dari barisan
shahabat ? Level PAUD. Sama seperti antum semua.
Bahkan seorang mauludinpun tidak mengerti tauhid uluhiyah karena sudah termakan syubhat jahmiyah dan murjiah.
Berkacalah kepada sejarah dan tadaburrilah sejarah sehingga antum mendapat hikmah. Sejarah telah membuktikan semuanya.
Afwan kata '' salafiy '' ditandai tanda petik artinya salafiy palsu.
Untuk pembuktian dari tulisan nahnu diatas , adakah dari antum semua ''
salafiy '' yang berani berhujah bab tauhid uluhiyah disini , di grup
ini , atau di grup antum ?
Ini bukan kesombongan tapi pembuktian dengan kepala dingin.
Mari dibuktikan !!
Imam Hasan Al -'asyary
Ulama ahli bid'ah yang akhirnya insyaf dan kembali kepada sunnah .
Adapun orang jahilnya tidak mengikutinya dan sampai sekarang faham
bid'ah asy'syari tetap dilestarikan. Bayangkan ulamanya sudah insyaf
pengikutnya tetap bid'ah
Lihat
sama dengan QHJ. Ulama bid'ah berbondong-bondong masuk kedalam QHJ ,
adapun pengikut QHJ yang level dasaran keluar dan mengikuti ahli bid'ah
jahmiyah.
Mirip seperti keluarnya atho bin wasil murid imam Hasan Albashry yang menjadi jahmiyah.
Ulama ahli bid'ah yang akhirnya insyaf dan kembali kepada sunnah .
Adapun orang jahilnya tidak mengikutinya dan sampai sekarang faham bid'ah asy'syari tetap dilestarikan. Bayangkan ulamanya sudah insyaf pengikutnya tetap bid'ah
Lihat sama dengan QHJ. Ulama bid'ah berbondong-bondong masuk kedalam QHJ , adapun pengikut QHJ yang level dasaran keluar dan mengikuti ahli bid'ah jahmiyah.
Mirip seperti keluarnya atho bin wasil murid imam Hasan Albashry yang menjadi jahmiyah.
Lalu diantara antum ada yang sombong berkata :
Ana dulu pengurus !! Pengurus apa , pengurus organ aja kok bangga , sudah khatam Al-qur'an ma'na keterangan belum ?
Ana hafidz Al -qur'an . Hafidz kok bangga ! Yang mengajari dia jadi hafidz adalah ulama top diluar yang ketika bertemu NH malah insyaf.
Ana mubaligh !? Alah.. Mas mas mubaligh kok bangga , wong antum pas
mondok asal ngisi dan ngajar asala ngajar terus ngeminter. Buktinya apa ?
Antum jangan fitnah !! Ok , ana ga fitnah ! Mau bukti ? Gampang , nih
ucapan jahil antum
-' ana di QHJ ga pernah diajarin tauhid ,baru di '' salaf '' aja diajarin tauhid.
Nah ini , ini kebodohan antum , ngaku mubaligh , tauhid ga ngerti. Ga
pernah baca surat al-ikhlas ya ? Ga pernah baca surat ar-rahman ya ? Ga
pernah baca surat al kafirun ya ?
Ana ketua muda-mudi daerah dulu
Om, om , yang hafidz , yg mubaligh aja jahil murakkab apalagi antum
yang malah himpunan belum tentu khatam. Buktinya apa ? Mau bukti ? Ayo
masuk sini tes IQ antum yang katanya setinggi pohon tauge.
Maaf
bukan sombong lagi angkuh , tetapi celaan ini sebagai bentuk tahdzir.
Masih bagus akhlaq ana mencela orang hidup adapun antum , mencela. Orang
mati yang secara dalil saja jelas dilarang mencela orang yang sudah
wafat.
Yang mubaligh sama yang hafidz baca tuh HR bukhary soal larangan itu
Ana wakil daerah : pak , pak wakil daerah kok pamer , buktinya antum ditanya tentang thaghut saja ga ngerti.Ana bekas guru pondok , ana menguasai nahwu ... Mas , bisa nahwu kok sombong , berapa banyak ahli nahwu diluar yang ahli bid'ah dan terbukti antum ditanya oleh seseorang tentang bentuk mengkufuri thaghut itu bagaimana , ya antum menjawabnya tolah-toleh garuk-garuk kepala.
Eh... Datang lagi makhluq halus mengaku ber IQ tinggi yang bernama @gali pat(nama akun salafi).
Kalo antum makhluq halus ya ana akui karna iblis IQnya diatas rata-rata manusia , yahudipun sama tetapi kesombongan telah menyebabkan mereka menjadi maklhuq paling bodoh.
Atas kelakuan antum '' akhti wa ukhti '' ana hanya berdoa.
Naudzubillahi minal jahilin
Ya muqalibal qulub tsabit qulubana 'ala dinika
Beberapa dalil yg meng haram kand tentang valentin atau berduaan antar lawan jenis (pacaran)
- Larangan mendekati perzinahan (QS Al Isra 17:32)
وَلاَ تَقْرَبُوا الِزنىَ إنَهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
Artinya: janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah seburuk-buruk perbutan.
QS Annur 24:30-31 tentang kewajiban menundukkan pandangan dan haramnya menjalin hubungan di luar nikah (pacaran)
قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون . وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن
Artinya: Katakan pada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga
pendangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci
bagi mereka. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat
(ayat 30).
Dan katakan pada para perempuan yang beriman, agar
mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah
menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang (biasa) terlihat. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau
ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau
putra-putra suami mereka ... (ayat 31)
- Hadits Nabi :
إن الله كتب على ابن آدم حظه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالة ، فزنا العين
النظر ، وزنا اللسان المنطق ، والنفس تمنَّى وتشتهي ، والفرْج يصدق ذلك كله
ويكذبه
Artinya: Allah telah menulis bagian umat manusia dari zina.
Zina mata adalah dengan melihat. Zina lisan dengan bicara, dan nafsur
berharap dan berkeinginan. Farj (bagian privat manusia) mengkonfirmasi
hal itu semuanya atau tidak membenarkannya.
Bertaubat setelah Membunuh 99 Orang
Hadist berikut mengajarkan pada kita bahwa Allah mengampuni seberapapun besar dosa-dosa hambanya selagi mau bertaubat kembali pada jalan yang benar. juga agar kita tidak apriori tehadap siapapun atau golongan apapun sekstrim dan sejahat apapun karena selagi masih hidup mereka masih mungkin untuk bertaubat menjadi orang baik.
2622 - حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ: أَنْبَأَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ النَّاجِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ سَمِعَتْهُ أُذُنَايَ، وَوَعَاهُ قَلْبِي " إِنَّ عَبْدًا قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا ثُمَّ عَرَضَتْ لَهُ التَّوْبَةُ، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ فَأَتَاهُ، فَقَالَ: إِنِّي قَتَلْتُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: بَعْدَ تِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ نَفْسًا قَالَ: فَانْتَضَى سَيْفَهُ فَقَتَلَهُ، فَأَكْمَلَ بِهِ الْمِائَةَ، ثُمَّ عَرَضَتْ لَهُ التَّوْبَةُ، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنِّي قَتَلْتُ مِائَةَ نَفْسٍ، فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: فَقَالَ: وَيْحَكَ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ اخْرُجْ مِنَ الْقَرْيَةِ الْخَبِيثَةِ الَّتِي أَنْتَ فِيهَا إِلَى الْقَرْيَةِ الصَّالِحَةِ قَرْيَةِ كَذَا وَكَذَا، فَاعْبُدْ رَبَّكَ فِيهَا، فَخَرَجَ يُرِيدُ الْقَرْيَةَ الصَّالِحَةَ، فَعَرَضَ لَهُ أَجَلُهُ فِي الطَّرِيقِ، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ، قَالَ إِبْلِيسُ: أَنَا أَوْلَى بِهِ، إِنَّهُ لَمْ يَعْصِنِي سَاعَةً قَطُّ، قَالَ: فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ: إِنَّهُ خَرَجَ تَائِبًا " قَالَ هَمَّامٌ: فَحَدَّثَنِي حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ: فَبَعَثَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَلَكًا، فَاخْتَصَمُوا إِلَيْهِ ثُمَّ رَجَعُوا، فَقَالَ: انْظُرُوا، أَيَّ الْقَرْيَتَيْنِ كَانَتْ أَقْرَبَ، فَأَلْحِقُوهُ بِأَهْلِهَا، قَالَ قَتَادَةُ: فَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ، قَالَ: لَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ احْتَفَزَ بِنَفْسِهِ فَقَرُبَ مِنَ الْقَرْيَةِ الصَّالِحَةِ، وَبَاعَدَ مِنْهُ الْقَرْيَةَ الْخَبِيثَةَ، فَأَلْحَقُوهُ بِأَهْلِ الْقَرْيَةِ الصَّالِحَةِ. قَالَ أَبُو الْحَسَنِ بْنُ الْقَطَّانِ: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ فَذَكَرَ نَحْوَهُ__________[حكم الألباني]صحيح دون قوله الحسن لما حضره الموت ق
... Abi Said Al-Hudriyi meriwayatkan: Sudikah kalian aku ceritakan apa-apa yang saya dengar dari lisan Rasulillahi SAW? Yang aku dengar sendiri dan aku fahami dengan hatiku. Sesungghnya seorang hamba telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian ia berkehendak untuk bertaubat. Maka ia bertanya tentang orang alim penduduk bumi. Maka ia ditunjukkan pada seseorang maka ia mendatanginya:”Sesungguhya saya telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah saya masih bisa bertaubat? “Setelah engaku membunuh 99 orang?”
Nabi bersabda: “Maka hamba itu menghunus pedangnya dan membunuh sang alim. Maka genaplah seratus orang. Kemudian ia berkehendak untuk taubat kembali, maka ia bertanya tentang orang alim penduduk bumi. Maka ia ditunjukkan pada seseorang maka ia mendatanginya”.Maka hamba berkata: ”Sesungguhya saya telah membunuh seratus orang, apakah saya masih bisa bertaubat? Nabi bersabda: Orang alim tersebut mengatakan,”Kasihan engkau!, siapakah yang menghalangimu untuk bertobat? Keluarlah dari desa kejelekan tempat tinggalmu menuju desa kebaikan, yaitu desa ini dan ini, maka beribadahlah kepada Tuhanmu di sana”.
Maka hamba keluar untuk bertaubat di desa kebaikan. Maka datanglah padanya ajalnya di tengah jalan. Maka Malaikat rohmat dan Malaikat Azab berebut mengambilnya. Iblis berkata: “Saya lebih berhak atas hamba ini. Sesungguhnya ia tidak menyelisihku sedikitpun”. Nabi Bersabda: Maka Malaikat Rahmat mengatakan: “Sesungguhya hamba ini keluar untuk bertaubat”.
Abi Rofik meriwayatkan bahwa Allah mengutus malaikat penengah. Malaikat penengah mengatakan: “Ukurlah ke desa manakah ia lebih dekat posisinya, maka susulkanlah pada penghuni desa itu”.
Hasan meriwayatkan: “Ketika datang mati hamba tersebut terjungkal tubuhnya lebih dekat ke desa kebaikan, dan menjauhkan dari desa kejelekan. Maka Malaikat emnyusulkan pada desa kebaikan”.
Hadist Ibnu Majah No.2622 Kitabu Diyat
Sumber : LDII Sidoarjo
Seputar Sejarah Maulid
Adapun orang yang pertama kali mengadakannya adalah Bani Ubaid
Al-Qoddakh yang menamai diri mereka dengan “Fatimiyyah”, yang mana
mereka adalah dari golongan Syi'ah Rafidhah. Mereka memasuki kota Mesir
pada tahun 362 H / 977 M. Dari... situlah kemudian tumbuh berkembang
perayaan maulid secara umum dan maulid nabi secara khusus. Imam Ahmad
bin Ali Al-Miqrizi –ulama ahli tarikh/sejarah- mengatakan dalam kitabnya
“Al-Mawaidz wal I’tibar Bidzikri Khutoti wal Atsar” (1/490) : “Para
khalifah Fatimiyyah mempunyai perayaan yang bermacam-macam setiap
tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, Asyuro’, maulid Nabi, maulid Ali
bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah az-Zahra, dan
maulid khalifah. Serta perayaan lainnya seperti perayaan awal bulan
Rajab, awal Sya’ban, Nisfu Sya’ban, awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan,
dan penutupan Ramadhan….” Orang yang pertama kali merayakan hari ulang
tahun nabi setelah mereka adalah Raja Mudhafir Abu Sa’ad Kaukaburi pada
awal abad ke 7 Hijriah. Sebagaimna diungkapkan oleh Imam Ibnu Katsir
dalam kitabnya “Al-Bidayah wa An-Nihayah : 13/137)” : “Dia (Raja
Mudhafir) merayakan maulid Nabi di bulan Rabi’ul awal dengan amat mewah.
As-Sibt berkata : Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa
dalam hidangan raja Mudhafir disiapkan 5000 daging panggang, 10.000
daging ayam, 100.000 gelas susu, dan 30.000 piring makanan ringan….”
Hingga beliau (Ibnu Katsir) berkata pula : “Perayaan tersebut dihadiri
oleh tokoh-tokoh agama dan orang-orang Sufi (betapa serupanya dahulu dan
sekarang, pen). Sang raja pun menjamu mereka. Bahkan bagi orang-orang
Sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi di waktu Dzhuhur hingga fajar,
dan raja pun juga ikut berjoget bersama mereka." Ibnu Khalikan berkata
dalam kitabnya "Wafayatul A’yaan" (4/117-118) : "Bila tiba awal bulan
Safar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan
mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan para penyanyi. Ahli penunggang
kuda, dan pelawak. Pada hari itu manusia LIBUR KERJA karena ingin
bersenang-senang di kubah-kubah tersebut bersama para penyanyi…..dan
bila maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi dan kambing,
yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan
nyanyian sampai tiba di lapangan….Pada malam maulid, raja mengadakan
nyanyian setelah sholat Maghrib di benteng.” Demikianlah sejarah awal
perayaan hari ulang tahun Nabi yang penuh pemborosan dan kemaksiatan.
Perkataan Ulama tentang Maulid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata
dalam kitabnya “I’qtidho’ Shirotil Mustaqim” (2/123-124): “Demikian pula
apa yang diadakan oleh sebagian manusia tentang perayaan hari kelahiran
Nabi, padahal ulama telah berselisih tentang tanggal kelahirannya.
Semua tidak pernah dikerjakan oleh generasi salaf (sahabat, tabi’in,
tabi’ut dan tabi’in)….dan Seandainya hal itu baik (untuk diamalkan),
Tentu para salaf lebih berhak mengerjakannya daripada kita. Karena
mereka jauh lebih cinta kepada Nabi dan mereka lebih semangat dalam
melaksanakan amal kebaikan. Sesungguhnya cinta Rasul adalah dengan
mengikuti beliau, mentaati perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara
dzahir dan batin, menyebarkan ajarannya, dan berjihad untuk itu semua,
baik dengan hati, tangan ataupun lisan. Karena inilah jalan para
generasi utama dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan kebaikan.” Syaik Muhammad Abdussalam As-Syaqiry
(murid Syaikh Rasyid Ridha) berkata dalam kitab “As-Sunan wal Mubtada’at
: 123” bahwa : “Di bulan ini (Rabi’ul awal), Rasulullah dilahirkan dan
diwafatkan…..Oleh karenanya, menjadikan kelahiran beliau sebagai
perayaan merupakan perkara bid’ah munkaroh dan sesat serta tidak sesuai
dengan syariat dan akal. Seandainya perkara ini baik, Bagaimana mungkin
amalan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin
Affan, Ali bin Abi Thalib, serta para sahabat dan tabi’in, tabi’ut
tabi’in serta ulama kaum muslimin ? Tidak syak lagi bahwa perayaan
tersebut hanyal Dibuat-buat oleh para Sufi yang suka makan, dan oleh
para pengangguran dari kalangan ahlu bid’ah yang kemudian diikuti oleh
mayoritas manusia. Pahala apa yang akan diperoleh dari harta yang
dihambur-hamburkan ?” K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari Al-Jombangi pendiri
Pesantren Tebu Ireng dan juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU) berkata dalam
kitabnya “At-Tanbihaat al-Waajibat liman Yashna’ Maulid bin Mungkarot”
hal.17-18, yang bukilannya adalah : “Perayaan maulid seperti yang saya
sifatkan pertama kali (dibumbui maksiat) hukumnya haram, dan tidak ada
dua tanduk yang bertabrakan tentang terlarangnya maulid, tidak dianggap
baik oleh orang yang memounyai sifat takwa dan iman. Akan tetapi yang
menyenanginya hanyalah orang yang dibutakan matanya dan sangat bernafsu
terhadap makan dan minum serta tidak takut maksiat kepada siapapun dan
tidak peduli dengan dosa apapun. Demikian pula Menontonnya, menghadiri
undangannya, dan menyumbang harta untuk perayaan maulid tersebut. Semua
itu hukumnya haram dan sangat haram, karena mengandung beberapa
kemungkaran, yang akan kami sebutkan di akhir kitab.” Kemudian di
halaman 8-10, beliau berkata pula : “Pada malam Senin tanggal 25 Rabi’ul
Awal tahun 1355 H / 1935 M saya melihat sebagian santri pondok
pesantren agama mengadakan perayaan maulid dengan menghadirkan alat-alat
musik kemudian membacakan sedikit ayat Qur’an serta kisah kelahiran
Nabi (kitab Barzanji). Kemudian setelah itu, mulai mengerjakan
kemungkaran seperti (atraksi) pencak silat dengan menabuh gendang. Semua
itu dilakukan dihadapan para wanita yang bukan mahram. Demikian pula
sejenis judi (domino), campur baur laki-laki perempuan, joget, dan
tenggelam dalam hal yang sia-sia, tertawa dan mengeraskan suara di
masjid dan sekelilingnya. Melihat itupun SAYA MENGINGKARI mereka dari
kemungkaran-kemungkaran tersebut. Lalu merekapun bubar. Tatkala
perkaranya seperti yang saya gambarkan tadi, dan saya khawatir dan
kejadian menjijikan ini akan bertambah menyebar ke tempat lainnya atau
akan ditambah lagi oleh orang-orang awam dengan kemaksiatan lainnya,
maka saya tulislah buku ini sebagai Nasehat dan Petunjuk kepada kaum
Muslimin.” Syubhat Perkara Maulid Ada yang mengatakan bahwa perayaan
maulid Nabi termasuk konsekuensi wujud cinta kepada Nabi Muhammad.
Ketahuilah : “Perkataan ini dusta, tidak berdasar dalil sedikitpun.
Sebab maulid Nabi tidak termasuk konsekuensi cinta kepada Nabi. Cinta
Nabi itu dengan ketaatan (dalam menjalankan sunnahnya), bukan dengan
kemaksiatan dan kebid’ahan seperti halnya maulid Nabi. Bahkan maulid
Nabi termasuk pelecehan dan penghinaan kepada Nabi” [“Siyanatul Insan
‘An Waswasati Syaikh Dahlan” hal. 228 oleh Syaikh Muhammad Basyir
Al-Hindy, kata pengatar oleh Syaikh Rasyid Ridha] Kemudian perhatikan
cerita dialog menarik yang diambil dari buku “Syaikh Abdul Qadir Jailany
wa Aro’uhu” hal.420-421 seputar masalah maulid... “Suatu kali aku
berkunjung ke salah satu negeri Islam dalam acara muktamar tahun 1415 H /
1993 M, tiba-tiba seorang ulama negeri tersebut mengajak dialog
bersamaku tentang maulid Nabi setelah menuduhku tidak mencintai Nabi
karena aku tidak merayakan maulid. Kemudian aku jelaskan kepadanya bahwa
penyebab utama aku tidak merayakannya adalah justru karena kecintaanku
kepada Nabi. Sebab hakekat cinta kepadanya adalah dengan beramal sesuai
petunjuknya (sunnahnya). Lalu terjadilah dialog sebagai berikut :
Penulis : “Apakah maulid merupakan amal ketaatan ataukah kemaksiatan ?”
Jawabnya : “Jelas ketaatan” Penulis : “Apakah Nabi mengetahui ketaatan
tersebut ataukah tidak mengetahuinya ?” Jawabnya : “Mengetahuinya”. (Dia
menjawab demikian karena tidak mungkin dia berani mengatakan bahwa Nabi
tidak mengetahuinya, kalau dia mengatakan Nabi tidak mengetahuinya
berarti perkara maulid yang dia amalkan langsung menjadi bathil) Penulis
: “Apakah Nabi menyampaikan perintah maulid atau menyimpannya ?”
Jawabnya : (Dia bingung harus menjawab apa, lalu berkata) :
“Menyampaikannya ?” (Dia menjawab demikian, karena tidak mungkin dia
menjawab Nabi menyimpannya, kalau dia mengatakan Nabi menyimpan perintah
maulid, berati perkara maulid yang dia amalkan langsung menjadi bathil)
Penulis : “Jika begitu, tunjukkan kepada saya contoh dari Nabi tentang
perayaan maulid (jika kamu berkata bahwa Nabi menyampaikan hal tersebut)
? Jawabnya : (Diam tidak bisa menjawab) Penulis : “Diamnya saudara
berarti menunjukkan bahwa Nabi tidak menyampaikan perkara Maulid ini
(tidak ada contohnya dari beliau). Akhirnya dia mengakui bid’ahnya
maulid Nabi dan berjanji kepadaku untuk memerangi bid’ah tersebut.
Semoga Allah meneguhkan hatinya.” Nasehat untuk saudaraku sesama
muslim…. Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian memujiku sebagimana kaum
Nashrani memuji Nabi 'Isa. Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah :
Hamba Alloh dan Rasul-Nya.” [HR. Bukhari : 3445] Imam Syatibi berkata
dalam kitabnya “Al-I’tishom” I/64-65), bawah Imam Malik berkata :
“Barangsiapa melakukan bid’ah dalam Islam dan MENGANGGAPNYA BAIK (bid’ah
ahsanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad mengkhianati
risalah, karena Allah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan
untukmu agamamu….”. Maka apa saja yang di hari itu (pada zaman Nabi)
bukan sebagai agama, maka pada hari ini juga tidak termasuk agama.” Imam
Al-Barbahari berkta dalam kitabnya “Syarhus Sunnah” hal. 68-69 bahwa :
“Waspadailah olehmu perkara baru (bid’ah). Karena bid’ah yang awalnya
kecil, lambat laun akan terbiasa dan menjadi besar. Demikian pula setiap
bid’ah pada ummat ini, AWALNYA HANYA KECIL MIRIP DENGAN KEBENARAN,
HINGGA PELAKUNYA TERTIPU DAN SUDAH TIDAK MAMPU LAGI KELUAR DARINYA….”
Demikianlah pembahasan ringkas tentang bid’ahnya maulid nabi. Semoga
Allah menunjuki kita semua. Amien. [Ditulis oleh Abu Ubaidah As-Sidawi
Al-Atsary dalam Bulletin Al-Furqan, Edisi 8 tahun I, dengan sedikit
penambahan dari editor]
Dimanakah kedudukan imam ِِAhmad bin Hanbal dan Imam Hasan al Bashri dengan kedudukan pemimpin para pemuda di syurga Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam Hussein bin Ali bin Abi Thalib cucu serta Abdullah bin Zubair bin Awwam anak dari 10 orang yang dijamin syurga serta cucu dari ahli syurga Abu Bakar Assidiq.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Dimanakah kedudukan imam ِِAhmad bin Hanbal dan Imam Hasan al Bashri
dengan kedudukan pemimpin para pemuda di syurga Rasulullah Shalallahu
alaihi wassalam Hussein bin Ali bin Abi Thalib cucu serta Abdullah bin
Zubair bin Awwam anak dari 10 orang yang dijamin syurga serta cucu dari
ahli syurga Abu Bakar Assidiq.
Segolongan orang orang yang
dhaif jiddan dalam berhujah selalu saja memegang teguh pendapat dari
Ahmad bin Hanbal dan Hasan al Bashri yang berkata : Thaatlah kepada
penguasa muslim.
Dengan pendapat ini sekelompok orang orang
yang dhaif jiddan berpegang teguh dengannya dan menghilangkan ,
mengabaikan atau pura pura tidak tahu atau bahkan sengaja menghilangkan
bukti sejarah akan adanya perlawanan , penentangan terhadap penguasa
dzalim.
Lalu apakah dengan perlawanan terhadap penguasa dzalim
itu menyebabkan seseorang menjadi khawarij ? tentu tidaklah semudah itu
kita menghukuminya. sekali lagi , seandainya kita tidak melupakan
sejarah maka kita tidak akan bertahan pada hawa nafsu kita seakan akan
kebenaran hanyalah milik 1 atau 2 pendapat saja.
Ketika Husein
bin Ali bin Abi Thalib pemimpin para pemuda di syurga keluar menuju Iraq
untuk menerima bai’at penduduk Iraq , maka apakah husein telah menjadi
khawarij karena membuat bai’at sendiri yang menentang penguasa saat itu
Yazid bin Muawiyah ? dan apakah pembunuhan terhadap Husein bin Ali
dibenarkan oleh semua shahabat dan kebenaran ada di fihak Yazid bin
Muawiyah yang jelas sekali pada saat itu Yazid adalah penguasa tunggal
seluruh kaum muslimin ?
Hanya orang orang dhaif jiddan dalam
beraqidah dan berhujah yang melupakan atau menghilangkan atau sebenarnya
tidak mengetahui sejarah bahwa Husein bin ali di bai’at oleh penduduk
Iraq untuk menentang kekuasaan yazid bin muawiyah bin abu syufyan secara
sembunyi –sembunyi.
Kisah lain ketika Abdullah bin Zubair bin
Awwam dibai’at dan menjadi khalifah di mekkah memisahkan diri dari
pemerintahan yazid bin muawiyah , maka apakah Abdullah bin Zubair bisa
dikatakan beraqidah khawarij ? dan ketika Abdullah bin Zubair disalib
dan dipenggal kepalanya dihadapan asma binti abu bakar dan Asma ibunda
Abdullah bin zubair berkata ; bahwa Allah akan melaknat pembunuh
anaknya. Dengan begitu apakah kita masih mengatakan barang siapa
menentang penguasa muslim maka dia khawarij ? difihak siapakah kebenaran
pada saat husein bin ali maupun Abdullah bin zubair menentang penguasa
muslim tunggal Yazid bin Muawiyah ?
Begitu juga ketika hampir
seluruh penduduk Madinah mencabut baiatnya dan menolak serta melawan
penguasa Bani Umayyah pada saat itu . sehingga hampir seluruh penduduk
madinah dibunuh oleh Muslim bin Uqbah. Dan apakah pada saat itu semua
penduduk madinah khawarij ? tidak , bahkan semuanya ahlu sunnah. bila
kita berpegang dengan hujah bathil para dhaif jiddan yang mengatakan
haram hukumnya melawan penguasa muslim , maka niscaya kita mengatakan
Husein bin Ali , Abdullah bin Zubair , Penduduk Madinah dan Mekkah
semuanya telah mengerjakan perbuatan haram dan khawarij karena melawan
penguasa yang menguasai suatu wilayah dan punya kekuatan dan
keberadaanya jelas.
Inilah yang seperti kami jelaskan pada
postingan terdahulu bahwa akibat tidak bisa memahami qaidah qaidah fatwa
, tafsir dan ra’yu sehingga menjadi ustadz dhaif jiddan dengan
pengikutnya yang lebih dhaif jiddan
Banyak kisah banyak cerita
yang bila kita mau membuka mata hati kita , Ikhlas mencari kebenaran
niscaya akan kita temui di dalam sejarah perjalanan umat Muhammad
shalallahu alaihi wa sallam.
Judul yang kami tulis diatas
bukanlah bertujuan untuk menjadikan perbandingan kedudukan seseorang ,
tetapi judul itu untuk menjadi bahan renungan kita dan penulis
memaksudkan kepada pembaca agar bisa memahami situasi dan kondisi suatu
zaman dan sikap ulama terhadap suatu masalah dan kelas akal dari yang
bertanya. Dan mungkin saja ketika melihat kerusakan akibat menentang
terhadap penguasa yang memiliki kekuatan dan pada saat itu penguasa
dikelilingi ahli bid’ah disekitarnya maka imam Ahmad bin Hanbal dan
Hasan al Bashry karena mengetahui sejarah riwayat terdahulu akhirnya
memilih untuk kebaikan dan mencegah kerusakan bagi ahlu sunnah dan bukan
dimaksudkan untuk mengakui secara mutlak bahwa penguasa itu adalah
imamnya. Allahu ‘alam.
Kenapa kami berani berpendapat seperti
itu , apakah pendapat ini berasal dari hawa nafsu kami ? tidak . sebab
dimanakah kedudukan para amir –amir setelah lepas zaman tab’in
dibandingkan dengan zaman shahabat masih hidup. Sangat sangat jauh dalam
hal ketaqwaan terhadap sunnah dan hukum syariat. Tetapi hal sekecil
apapun yang dilihat oleh shahabat seperti Husein bin Ali yang telah di
jamin syurga dan penduduk Mekkah serta Madinah yang ibnu abbas dan ibnu
umar serta Abdullah bin zubair berada ditengah tengah mereka terhadap
penentangan syariat , maka mereka keluar melawan. Tidak mendiamkan ,
mereka dibai’at dan membai’at yang pada awalnya secara diam – diam
ketika di bai’at
Begitu juga ketika zaman al Watsiq yang
memiliki aqidah al qur’an itu makhluq . imam Ahman bin Nashr al khuzai
keluar membai’at dan di bai’at secara sembunyi – sembunyi oleh
pengikutnya dan beliau berdakwah secara sembunyi sembunyi
( bithonah
) sehingga beliau meninggal dalam keadaan di penggal kepalanya oleh
penguasa pada saat itu. Maka apakah Imam Ahmad bin Nashr al Khuza’I
adalah khawarij ? ibni taimiyah menjelaskan bahwa sepeninggal imam ahmad
bin Nashr bai’at dilanjutkan oleh imam Ahmad bin hanbal.
Dan
banyak kisah sejarah lain yang bila kita mau belajar dalam hadits
rasulullah niscaya akan kita ketahui bahwa tidak ada satupun dalil
shahih maupun dhaif yang MEWAJIBKAN IMAM HARUS MEMILIKI WILAYAH DAN
MEMPUNYAI KEKUATAN. Sejarah para ahli syurga telah membuktikan itu
dimana Husein bin Ali tidaklah mempunyai kekuasaan wilayah dan kekuatan
sedikitpun , begitu juga dengan penduduk Madinah , Mekkah dan Abdullah
bin zubair serta imam Ahmad bin Nashr al Khuzai.
Semoga dengan
menyimak sejarah yang telah kami tulis bisa menjadi cahaya terang bagi
ahlu sunnah yang berjama’ah untuk semakin mantap akan barang haq serta
bagi yang belum memahami bisa menjadi sinar dihatinya agar bisa keluar
dari jerat taklid dan ta’ashub terhadap para ustadz dhaif jiddan. Yang
kami bawakan adalah bukti sejarah yang selalu dipertanyakan oleh
sekelompok pengikut ustadz dhaif jiddan dan telah kami bawakan. Adapun
sekarang giliran kalianlah yang membawakan dasar dari kenapa imam Ahmad
bin Hanbal dan imam Hasan al Bashry pada saat itu berpendapat seperti
itu.
Dan janganlah menjadi seperti firman Allah dibawah ini :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ
Langganan:
Postingan (Atom)
PENYAKIT HATI [KAGUM DIRI, MERASA POL DEWE]
Kagum diri dapat diartikan suatu penyakit hati yang membuat seseorang merasa bahagia dengan pujian dari orang lain dan merasa diri...
-
Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan ketika ingin menjadi master dalam bidang apapun, seperti : 1. Kita harus belajar dari y...
-
Kali ini Anda akan mempelajari “Bagaimana mejadi pemimpin dalam hidup?” Dan Anda di haruskan untuk melakukan take action untuk membuat And...
-
Pertama adalah membentuk kebiasaan dan pada akhirnya kebiasaan lah yang membentuk kita. Kumpulan dari pikiran dan perasaan kita akan men...



